Kotaku..., kota kita..., kota kamu...
Contact : 0813 8291 0789, 0812 6321 0471 (WA)
Tampilkan postingan dengan label Republik Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Republik Nusantara. Tampilkan semua postingan

13 Mar 2016

Unknown

Republik Nusantara ....(2)

Peta Republik Nusantara
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama tim teknis antar-kementerian/lembaga yang terdiri dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dittop TNI AD, Dishidros TNI AL, serta Disurpotrud TNI AU telah menyepakati penyusunan revisi peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 2015.
Dalam revisi peta NKRI edisi tahun 2015 tersebut terdapat sejumlah pembaharuan yang mencolok, seperti revisi perbatasan dengan negara tetangga dan perubahan atau penambahan toponimi batas administrasi.
Untuk perbatasan dengan negara tetangga, terdapat revisi berupa tambahan batas laut teritorial yang telah disepakati pada September 2014 antara Indonesia dan Singapura, serta perubahan batas landas kontinen.
Selain itu, kesepakatan juga mencakup persetujuan perubahan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan Filipina, batas wilayah darat Indonesia dengan Timor Leste, dan perubahan tempat tulisan Laut Natuna di dalam peta.
Kepala Badan Informasi Geospasial Priyadi Kardono menjelaskan, proses revisi peta NKRI sudah dilakukan beberapa kali, termasuk untuk hal-hal yang awalnya belum terpikirkan, dan kini mulai diperbaiki. Sejumlah kementerian ataupun lembaga terkait ikut mengidentifikasi perubahan peta tersebut.
 "Sebelumnya, kami sudah melakukan rapat evaluasi. Semoga pengesahan peta NKRI terbaru ini, yang ditandatangani para pejabat dari perwakilan kementerian ataupun lembaga terkait, bisa menjadi sejarah," ucap Priyadi, Selasa (12/5/2015).
Priyadi menambahkan, proses revisi dari peta NKRI terdahulu perlu dilakukan, mengingat bumi yang terus mengalami pergerakan pada keraknya, serta perkembangan wilayah administrasi Indonesia, baik secara nasional maupun internasional.
"Misalnya, terkait batas wilayah yang setiap tahunnya mengalami perkembangan, terutama bila ada daerah yang baru terbentuk, otomatis akan ada perubahan pada batas administrasinya. Adapun untuk lingkup internasional, contohnya terkait perbatasan dengan negara tetangga Indonesia yang telah disahkan melalui perundingan-perundingan," paparnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, proses revisi perubahan nama daerah atau penambahan kata dan huruf dalam peta perlu melalui kesepakatan bersama. Sebab, peta NKRI 2015 ini nantinya akan dipergunakan oleh semua orang di seluruh Indonesia.
"Nama-nama pulau harus disesuaikan dengan hasil verifikasi dan pembakuan. Karena itu, data dan informasi yang terkandung di dalamnya harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Priyadi.
Peta NKRI edisi 2015 merupakan revisi peta dari tahun sebelumnya yang menggambarkan wilayah kedaulatan NKRI, meliputi wilayah darat dan laut, baik berupa laut teritorial, perairan kepulauan dan perairan pedalaman, serta hak berdaulat Indonesia di Zona Tambahan, ZEE, dan landas kontinen. 

 Sumber http://garudamiliter.blogspot.co.id

Baca juga :
  1. Gagasan nama Republik Nusantara
  2. Republik Nusantara - Arkand di Sentilan Sentilun - Metro TV
  3. Republik Nusantara - Arland di Kick Andy - Metro TV

Read More
Unknown

Gagasan Nama Republik Nusantara - Ray Sahetapy

Republik Indonesia



NKRI menjadi Negara Kesatuan Republik Nusantara

Baca juga :
Read More
Unknown

Republik Nusantara - Arkand di Sentilan Sentilun - Metro TV

Republik Indonesia




NKRI menjadi Negara Kesatuan Republik Nusantara
Baca juga :
  1. Gagasan nama Republik Nusantara - TV Beruang
  2. Republik Nusantara - Arkand di Sentilan Sentilun - Metro TV
  3. Republik Nusantara - Arland di Kick Andy - Metro TV
Read More
Unknown

Republik Nusantara - Arland di Kick Andy - Metro TV

Republik Indonesia




NKRI menjadi Negara Kesatuan Republik Nusantara
Baca juga :
Read More

8 Jun 2015

Unknown

Presiden ke 7 Republik Nusantara



Presiden ke 7 Republik Nusantara
Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana

Read More

13 Mar 2008

Unknown

Republik Nusantara ....(1)

Apa yang anda lakukan kalau menjadi presiden negeri ini?
Ada hal  sederhana yang tampaknya perlu dilakukan. Yakni, mengajak seluruh bangsa ini bersepakat. Nama negara ini perlu diganti. Nama Indonesia terasa sudah kurang segar. Kurang mampu memberi gairah, apa lagi menggetarkan warganya. Nama Indonesia terasa lebih memenuhi keperluan legal formal. Bukan keperluan untuk dapat memberi nilai maknawi yang substansial. Misalnya mendorong etos warganya.
Tidak setuju nama Indonesia di ganti?  (Simak argumentasinya di sini) Boleh-boleh saja. Ini bangsa dan negara demokrasi. Tapi dari berbagai percakapan informal dapat disimpulkan, umumnya kita menyetujui gagasan ini. Banyak alasan yang mendasarinya. Bukan sekedar persoalan persoalan suka atau tidak. Sebab nama perlu berjiwa. Spirit atau jiwa itulah yang dapat melentingkan penyandangan untuk maju. Shakespeare bisa saja mengatakan “apalah arti sebuah nama.” Namun, untuk konteks kita sekarang, nama yang berspirit teramat penting. (Simak juga argumentasinya di sini) Tanpa spirit, tak akan ada kemajuan yang dapat diraih.
Kenyataan di masyarakat memperkuat kebutuhan ini. Mari kita tengok kasus Lapindo. Hingga kini belum selesai. Belum pula ada skenario jelas bagaimana menyelesaikannya. Nasib para korbannya juga masih banyak terbengkalai. Tengok pula nasib petani kita. Sampai sekarang kita tak punya skenario jelas buat mengangkat nasib petani. Sama tak jelasnya dengan alternatif solusi bagi berbagai krisis lainnya.
Banjir di berbagai daerah masih akan berulang dan berulang. Krisis pangan, seperti daging, kedelai, atau minyak goreng baru-baru ini, berpotensi lebih sering terjadi. Belum lagi krisis energi. Harga minyak BBM sudah jelas naik. Listrik mulai padam dan PLN ingin menaikan lagi harganya. Minyak tanah susah. Solusi listrik tenaga nuklir tak terwujud. Tempat pembuangan sampah yang tak menentu, bahkan tidak ada pabrik pendaur ulang yang besar. Demonstrasi. Kerusuhan. Keuangan negara tak menentu. Hingga muncul gagasan yang tidak lazim: Menyewakan hutan lindung untuk di jadikan pertambangan. Apa dari solusi persoalan itu? Kita cenderung hanya akan menggelengkan kepala. Kita, bangsa ini, tengah sakit.
Tentu kita harus tetap tersenyum, bersyukur, dan ikhlas. Itu modal utama untuk bangkit. Namun sakit juga harus diobati. Sedangkan obat, kata Ibnu Sina, bukan saja yang berbentuk material dengan mekanisme yang dapat dijelaskan secara rasional. Obat yang menyembuhkan juga harus mencakup jiwa. Harus ada intervensi jiwa untuk melahirkan “formula kesembuhan”. Intervensi jiwa begitu penting buat kesembuhan. Apalagi di saat obat material yang rasional belum dapat terlihat secara jelas. Seperti yang kita hadapi sekarang.
Pada masyarakat tradisional ada kearifan. Yakni saat seorang anak sakit berkepanjangan. Berbagai macam obat tak mampu mengatasinya. Maka orang tuanya akan mengganti nama sang anak. Tradisi seperti itu seperti tak bernalar. Mana mungkin sakit diatasi dengan mengganti nama. Tapi, umumnya terbukti anak akan menjadi lebih sehat. Ada suasana baru, ada spirit baru. Itulah yang menyehatkan. Prinsip itu serupa dengan pendekatan komunikasi pemasaran. Ada “siklus hidup”. Sebelum mencapai tahap “dewasa” yang kemudian menurun, produk perlu disegarkan. Banyak Amway, misalnya, disegarkan dengan bendera baru Network-21. Hal serupa terjadi pada ranah publik. Kota Bombai, misalnya, sekarang ganti nama menjadi Mumbai.
Lalu mengapa ragu melakukan itu pada Indonesia? Nama Indonesia bukan sekedar tak berakar, namun juga tak berjiwa. Apalagi sudah banyak yang terluka oleh nama Indonesia. Politik masa lalu yang menjadi penyebabnya. Kita juga punya pilihan nama yang lebih baik: Nusantara. Sebuah nama yang berakar panjang pada tanah manusia di kepulauan khatulistiwa ini. Bernard Vlekke, penulis sejarah yang sangat lengkap tentang bangsa kita, memberi judul bukunyaNusantara. Bukan Indonesia. Dengan menjadi Republik nusantara, tidak akan ada lagi tetangga yang mengejek kita dengan sebutan “orang-orang Indon”. Kita juga akan lebih antusias menyanyikan lagu kebangsaan “Nusantara Raya merdeka-merdeka!” Antusiasme inilah yang akan membuka langkah-langkah baru buat bangkit.
Sumber :
http://cukilantaufik.blogspot.co.id/2011/12/republik-nusantara.html
Read More