Kotaku..., kota kita..., kota kamu...
Contact : 0813 8291 0789, 0812 6321 0471 (WA)
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

11 Apr 2012

Kristian

Surat Warisan

Konon, ada seorang pria bernama Abdul Kadir. Saat berusia dua tahun, orang tuanya meninggal dunia. Abdul Kadir menerima warisan yang banyak berupa rumah dan tanah berhektar-hektar. Saudara ayahnya ditunjuk sebagai wali yang akan mengurus dan memelihara warisan tersebut mengingat usia Abdul Kadir yang masih muda.
Ternyata paman Abdul Kadir seorang yang licik. Dia membawa Abdul Kadir ke suatu tempat yang terpencil, untuk dipelihara oleh kerabatnya. Sang Paman lalu menjual warisan milik Abdul Kadir, dia berfoya-foya, dan menyebarkan cerita bahwa Abdul telah mati.
Di tempat kerabat pamannya, Abdul Kadir juga mengalami nasib buruk. Yang dia tahu, bahwa dia adalah seorang yatim piatu yang miskin, tidak mempunyai apapun, dan hidupnya bergantung dari belas-kasihan orang lain. Dia harus bekerja keras di ladang seorang tuan tanah untuk memenuhi kebutuhanya. Walau dia tidak bersekolah, tetapi dia bisa baca tulis tetapi tidak lancar.
Surat yang Mengubah Keadaan
Waktu terus bergulir dan tanpa disadari Abdul telah berusia 22 tahun. Suatu hari, ketika dia sendirian di rumah majikannya, datanglah seseorang mengantar sepucuk surat. Ternyata surat tersebut ditujukan untuknya, karena di sana tertulis namanya.
Dia sangat terkejut. Seumur hidupnya, tidak ada orang yang menulis surat untuknya. Ia baru berani membuka surat itu keesokan harinya, ketika berada seorang diri di tengah-tengah ladang tempat ia bekerja. Dengan susah payah ia mencoba membaca surat itu.
Kepada yang terhormat:
Saudara Abdul Kadir.
Aku yang menulis surat ini adalah Abdul Aziz, saudara kandungmu. Saudaramu seibu. Beberapa tahun lalu aku mendengar apa yang terjadi denganmu, dan ternyata kamu masih hidup. Aku benar-benar senang mendengarnya. Aku rindu untuk bertemu denganmu.
Abdul, adikku, selama ini kamu tidak tahu bahwa semua orang yang ada di sekelilingmu sesungguhnya adalah musuhmu. Mereka telah mencuri dan merampas semua harta warisan Ayah, yang sebenarnya adalah milikmu. Setelah mengetahui keadaanmu yang menyedihkan, aku memutuskan untuk berusaha membeli kembali harta warisanmu itu agar dapat diserahkan kepadamu.
Dengan ini aku beritahukan, bahwa harga yang mahal itu telah aku bayar lunas setelah bekerja keras dan hidup menderita selama bertahun-tahun. Sekarang surat-surat pemilikan atas warisan yang besar itu sudah di tanganku. Sementara ini, surat-suratnya kutitipkan kepada Kadi (hakim), yang nama dan alamatnya kulampirkan bersama surat ini.
Begitu surat-surat itu kautandatangani, seluruh harta warisan akan menjadi milikmu. Sekarang bawalah surat ini kepada Kadi dan tunjukkan kepadanya. Sesudah itu kita akan berkumpul dan berpesta.
Orang Lain Berusaha Merampas Surat Abdul Kadir
Seumur hidupnya belum pernah Abdul Kadir mengalami hal demikian. Dia tidak tahu, apakah isi surat itu dapat dipercaya atau tidak. Benarkah dia hanya orang miskin yang tidak mempunyai pilihan lain kecuali bekerja sebagai budak seumur hidupnya hanya demi sesuap nasi? Atau, benarkah dia ahli waris yang berhak atas suatu harta kekayaan yang besar sekali?
Dia tidak ingat lagi berapa kali ia membaca ulang surat itu. Dia benar-benar bingung. Akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan surat itu di bawah sebuah batu besar, agar tidak ketahuan oleh majikannya. Tetapi keesokan harinya ia menceritakannya juga kepada tuannya.
Tuan tanah itu menjadi marah. "Benar-benar tolol kamu ini!" demikian katanya. "Apakah kamu kira hanya ada satu orang di dunia ini yang bernama Abdul Kadir? Pasti surat itu untuk orang lain yang kebetulan namanya sama, pasti itu bukan untukmu." Abdul menjawab: "Tetapi mengapa namaku ada di surat itu? Aku akan mencari alamat pengirimnya untuk mengetahui kebenarannya. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti."
Majikannya pun berusaha membujuk Abdul agar menunjukkan surat itu. Bahkan ia mulai mengancam, tetapi sia-sia saja. Sebelum magrib, Abdul menyelinap pergi ke tempat persembunyian surat itu. Dan membacanya berkali-kali.
Para tua-tua kampung telah mendengar cerita surat itu dari majikan Abdul. Mereka mencoba membujuknya agar menunjukkan surat itu. "Anak muda," demikian kata mereka, "dengarkan nasihat kami dan jangan meremehkan kami sebagai orang yang lebih tua. Janganlah engkau percaya isi surat itu. Pasti orang itu ingin menipu dan mempermainkanmu. Surat itu tidak benar dan tandatangannya pun palsu. Bawalah surat itu kepada kami, dan akan kami buktikan bahwa surat itu palsu."
Tetapi Abdul tetap pada pendiriannya. Mereka menjadi marah sekali, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa terhadapnya.
Mendengar perkataan mereka, Abdul mulai bimbang. Keesokan harinya dia memutuskan untuk menyelidiki tentang surat itu lebih jauh. Dia pergi ke pasar untuk mencari orang yang dapat menunjukkan alamat itu kepadanya. Akhirnya dia bertemua dengan seseorang yang mengenal kota dari mana surat itu dikirim. Tahun yang lalu ia pernah berkunjung ke kota tersebut. Bahkan orang itu menambahkan: "Di kota itu memang ada seorang bernama Abdul Aziz. Semua penduduk di sana memujinya sebab ia seorang yang baik hati. Mereka mengatakan bahwa Abdul Aziz itu sebenarnya kaya raya. Tetapi entah kenapa, selama beberapa tahun belakangan ini ia hidup seperti orang miskin. IA bekerja keras dan menyisihkan penghasilannya, entah untuk APA, tetapi pasti untuk suatu tujuan yang mulia."
Rupanya orang itu sendiri tidak mengerti mengapa Abdul Aziz hidup demikian menderita. Tetapi mendengar hal itu Abdul Kadir mulai tersenyum, sebab ia mengerti. Hatinya berdebar penuh pengharapan dan sukacita. Ia merasakan suatu kepuasan di hati, yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya! Dia tahu untuk apa Abdul Aziz bekerja keras seperti itu. Ia melakukannya untuk dia
Mencapai tujuan
Saat Abdul memberitahu majikannya bahwa dia akan pergi ke alamat tersebut, majikannya sangat marah dan mengancam akan memenjarakannya bila dia berani ke sana. Akhirnya Abdul benar-benar dipenjara. Tetapi Allah tetap menyertai dia. Suatu malam, ia menggali lubang di bawah tembok penjara dan berhasil melarikan diri lewat lubang itu.
Di bawah cahaya terang bulan ia mengambil kembali surat yang telah disembunyikannya itu, lalu segera berangkat menuju kota tempat tinggal Abdul Aziz. Ia terpaksa bersembunyi waktu siang hari dan hanya melakukan perjalanan pada malam hari sampai ia berada cukup jauh dari tempat majikannya. Setelah melakukan perjalanan selama beberapa minggu, tibalah ia di kota itu, dan berusaha menemukan rumah sang Kadi. Selama perjalanan, tidak terhitung berapa kali dia membaca ulang surat itu. Setiap kali membacanya, timbullah suatu harapan dan keberanian dalam hatinya.
Ketika pak Kadi membuka pintu rumahnya, yang dilihatnya adalah seorang pemuda yang berpakaian compang camping dan kotor. “Mungkinkah begini tampang ahli waris yang akan menerima kekayaan yang begitu besar”? Pikir Kadi itu. Pakaian Abdul memang lusuh sekali. Bahkan kasut kaki pun tidak ada padanya karena ia terpaksa menjual segala yang dimilikinya untuk membeli bekal untuk perjalanan.
Abdul Azis Menerima Warisannya
Tetapi ketika Abdul mengatakan siapa dia sebenarnya dan menunjukkan surat itu,  Pak Kadi tersenyum."Untunglah Saudara kemari," kata pak Kadi. "Abdul Aziz memang sengaja tidak mau memaksa Saudara untuk datang, karena dia ingin tahu apakah Saudara percaya pada janjinya dan berani menempuh perjalanan sejauh ini. Tetapi sekarang Saudara sudah datang. Baiklah kita segera mengesahkan surat-surat itu di depan para saksi. Dan warisan itu menjadi hak Saudara."
Tidak terbayangkan bagaimana perasaan Abdul saat itu. Dia tahu ini bukan mimpi. Sekarang dia benar-benar telah menjadi seorang tuan tanah. Pemilik sah dari rumah dan tanah yang luas. Ia pun berjanji dalam hatinya untuk mengurus hartanya itu dengan baik.
Tetapi lebih dari itu, ia rindu sekali untuk bertemu dengan Abdul Aziz, abangnya yang baik itu. Ia tidak dapat melupakan bahwa dialah yang telah berjuang keras untuk memperoleh kembali warisan itu dan memberikannya kepadanya. Sesungguhnya, yang paling berharga baginya bukan warisan itu sendiri, melainkan abangnya yang telah menebus kembali baginya!
Surat dari Allah untuk umat-Nya
Bila Abdul Azis telah mengirimkan sepucuk surat untuk Abdul Kadir, saudara kandungnya. Demikian halnya dengan Allah. Dia juga mengirim sepucuk surat dari surga kepada umat-Nya.
Surat itu adalah Kitab Injil. Surat itu memberitahu bahwa Allah telah menyediakan suatu warisan bagi umat-Nya. Warisan ini bukan berupa harta di dunia yang dapat lenyap dan dicuri orang, melainkan  warisan yang suci, yang sempurna dan yang kekal. Warisan yang kekal ini antara lain adalah pengampunan atas semua dosa, keselamatan untuk jiwa, suatu kehidupan yang baru, dan perdamaian dengan Allah.  Allah telah mewariskan surga kepada seluruh anak manusia?
Surat itu juga menerangkan bagaimana caranya warisan besar ini telah disiapkan. Di dalamnya diceritakan bagaimana Allah mengutus Isa Al Masih yang mulia untuk berjuang dan menderita.
Warisan dari Allah untuk umat-Nya
Untuk menebus manusia, Isa Al-Masih telah meninggalkan segala kekayaan dan kemegahan yang dimiliki-Nya bersama Allah di surga. Dia turun ke dunia menjadi manusia untuk mengorbankan kehidupan-Nya, kemudian Ia kembali dari alam maut sebagai jaminan dari Allah bahwa warisan-Nya benar-benar telah menjadi hak milik manusia.

Semua itu dilakukan Isa Al-Masih karena manusia berada dalam kekuasaan iblis yang memusuhi mereka. Iblis telah berusaha mencuri dan merampas warisan itu dari manusia. Iblis senang bila manusia tidak tahu menahu tentang warisan itu. Tetapi karena rahmat Allah, Isa Al-Masih yang mulia telah berjuang untuk menjamin warisan itu kembali pada manusia dan membebaskan manusia dari cengkeraman Iblis.
Bersediakah Anda Menerima Warisan dari Allah?
Percayakah Saudara akan janji Allah ini? Maukah engkau untuk meninggalkan kehidupanmu yang lama yang penuh dosa dan diperbudak oleh Iblis? Bersediakah engkau menerima anugerah besar yang hendak diberikan Allah kepadamu?
Tentu akan ada orang-orang yang berusaha menghalang-halangi. Mereka akan mengatakan, tidak perlu untuk meninggalkan kehidupan yang lama. Juga akan ada yang mengatakan bahwa Surat Injil itu ditujukan bagi orang yang lain, bukan Saudara. Mungkin yang lain akan mengatakan surat itu palsu, isinya tidak benar, dan apa yang dijanjikannya itu sebenarnya tidak ada.
Ketahuilah, surat itu benar-benar ditujukan kepadamu! bahkan surat itu untuk semua orang yang berdosa. Bacalah surat itu dengan seksama dan dengan hati yang terbuka. Setelah Saudara melihat bahwa isinya memang benar dan betapa mahal harganya warisan kekal ini, hati Saudara akan begitu senang, sama seperti yang dialami oleh Abdul Kadir.
Kehidupan Saudara akan menjadi bahagia karena mendapatkan pengampunan, perdamaian, dan suatu kehidupan baru, yang menjadi milikmu atas hasil perjuangan Isa Al-Masih yang mulia itu. Selanjutnya Saudara akan begitu merindukan untuk bertemu dengan Isa Al-Masih, untuk menyatakan terima kasih kepada-Nya dan untuk berpesta dengan Dia pada waktu Ia datang kembali dari Sorga kelak. Allah Maha Besar! Terpujilah Tuhan, karena sungguh ajaib sekali segala sesuatu yang dikerjakan oleh-Nya
Read More
Kristian

HAKIM YANG ADIL

Kota Batupuncak adalah kota kecil yang penuh dengan praktek korupsi. Untuk mengatasi masalah itu pemerintah mengangkat Pak Surono sebagai hakim di kota tersebut. Pak Surono terkenal sebagai Pegawai Negeri administrator yang jujur dan adil, sehingga para wartawan dan beberapa orang terkemuka di kota tersebut tidak menyukainya. Mereka ingin mempermalukan dan merusak nama baik Hakim Surono sehingga dengan terpaksa pemerintah menggantinya dengan hakim lain yang lebih lunak. Mereka pun terus-menerus mencari jalan untuk menjatuhkan nama baik Hakim Surono.
Sahabat Karib Hakim Surono Diketahui Korupsi
Pak Latif, seorang kepala desa tertangkap basah melakukan korupsi. Dia pun ditahan hingga tiba saatnya pengadilan dan Pak Surono sebagai hakimnya. Semasa kecil, Hakim Surono dan Pak Latif tinggal di sebuah desa yang masih wilayah kota Batupuncak. Mereka tinggal bertetangga dan berteman akrab. Mereka selalu bermain bersama dan duduk di bangku sekolah yang sama. Bahkan mereka sering makan bersama dan tidur sekamar.
Orang tua Pak Latif juga membantu membiayai sekolah Hakim Surono,  karena keluarganya sangat miskin. Ketika orang tua Hakim Surono meninggal, orang tua Pak Latif menerima dia seperti anaknya sendiri. Tidak heran jika akhirnya Hakim Surono sangat mengasihi Pak Latif dan keluarganya.
Hakim Surono Dihadapkan Situasi Sulit
Para wartawan mengetahui Pak Latif adalah sahabat karib Hakim Surono dan sangat mengasihinya. Mereka melihat kasus ini adalah waktu yang tepat untuk menjatuhkan nama baik Hakim Surono. Jika Hakim Surono tidak menghukum Pak Latif dengan hukuman maksimal karena korupsi,  maka mereka akan menulis di surat kabar,  "Hakim Surono Tidak Adil dalam Menjatuhkan Hukuman".
Sebaliknya, jika Hakim Surono menghukum Pak Latif dengan hukuman maksimal, para wartawan akan menulis, "Hakim Tidak Menunjukkan Belas-kasihan pada Temannya". Hakim Surono akan digambarkan sebagai hakim yang tidak memiliki hati nurani dan rasa persaudaraan. Mereka akan menguraikan bagaimana sejak kecil kedua orang itu hidup seperti saudara dan keluarga Pak Latif yang telah berkorban untuk menyekolahkan Hakim Surono.
Hal ini menjadi dilema bagi Hakim Surono. Jika dia merasa iba lalu mengampuni Pak Latif, itu artinya Hakim Surono tidak adil. Tetapi, jika dia–karena sifat adilnya–menjatuhkan hukuman maksimal kepada Pak Latif, itu artinya Hakim Surono tidak memiliki sifat kasih dan belas-kasihan.
Adil dan Kasih, Dua Sifat yang Dapat Bertentangan
Dua sifat Hakim Surono yang sepertinya bertentangan ialah kasih dan adil. Hal ini juga terdapat dalam sifat Allah. Allah Maha Adil (Al-'Adl) dan Maha Kasih (Al-Rahim). "Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".  Dalam diri Allah dua sifat ini sempurna adanya. Namun terkadang dua sifat Allah ini kelihatannya dapat bertentangan.
Sifat adil dan kasih memang kadang terlihat bertentangan. Ini juga terlihat dalam sifat Allah yaitu saat Allah mengampuni dosa manusia begitu saja tanpa hukuman, jelas di sini terlihat Allah mengorbankan sifat adil-Nya. Sebaliknya, jika Allah yang Maha Adil menghukum manusia di neraka selamanya tanpa menyediakan jalan keluar, maka Allah kelihatannya tidak  mempunyai sifat kasih.
Bagaimana dengan Hakim Surono? Bagaimana bila dia bertindak tegas dan adil sehingga menjatuhkan hukuman maksimal pada Pak Latif?
Bagaimana pula bila Allah, Hakim yang Maha Adil menjatuhkan hukuman maksimal atas dosa kita?  Kita akan tinggal di neraka selamanya? Bukankah satu dosa saja sudah merupakan kebusukan yang sangat besar di hadapan Allah yang Mahasuci dan Mahakudus?
Adakah jalan keluar dari dilema ini? Tentu! Yaitu mempertahankan sifat adil dan kasih. Jalan ini pulalah yang dipakai Allah ribuan tahun silam. Simaklah kelanjutan kisah Hakim Surono berikut ini.
Pak Surono Memecahkan Dilema Pada Hari Penghakiman
Pada hari penghakiman para wartawan dan orang-orang terkemuka berkumpul di ruang pengadilan.  Mereka sangat membenci si hakim dan berupaya untuk menjatuhkannya. Pada saat yang telah ditentukan untuk menjatuhkan vonis, Hakim Surono berkata, "Jelas bahwa dalam kasus ini terdakwa telah melanggar hukum dan harus diadili. Kami diberi tugas untuk menumpas koruptor di kota ini. Sesudah mengumpulkan semua bukti-bukti, kami harus menjatuhkan hukuman maksimal kepada terdakwa, yaitu denda Rp. 1.200.000.000 rupiah ATAU sepuluh tahun penjara."
Pak Latif tidak mempunyai cukup uang untuk membayar denda sebesar itu sehingga dia sangat marah sekali.
Pak Surono Bertindak Adil dan Juga Mengasihi Sahabatnya
Mendengar vonis tersebut, para wartawan segera pergi untuk menulis artikel mengenai hakim yang keras hati dan tidak memiliki belas-kasih terhadap teman dekatnya. Mereka benar-benar ingin mempermalukan Hakim Surono di depan rakyat.
Sebelum mereka sempat keluar, Hakim Surono meninggalkan meja hijaunya dan menghampiri Pak Latif. Ia menanggalkan jubah-hakimnya.  Lalu ia membuka dompetnya dan memberikan kepada Pak Latif selembar cek senilai jumlah denda. Untuk mendapatkan uang sebesar itu, Hakim Surono telah menjual rumah dan mobilnya. Karena dia mengasihi temannya, dia rela mengorbankan semua harta miliknya. Dengan terharu, Pak Latif dapat  membayar dendanya dan terbebas dari hukuman.  
Bagaimana Allah Mengadili dan Mengasihi Manusia Berdosa
Isa Al-Masih, Kalimat Allah, datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa.  Keadilan Allah tidak ditiadakan karena dosa manusia dihukum dalam diri Isa Al-Masih. Jelas, dosa manusia diadili dan dihukum!
Namun, pada saat yang sama. Allah menyatakan kasih-Nya. Isa Al-Masih telah dikorbankan dan menanggung hukuman kita. Sehingga Ia dapat memberikan Jalan Keselamatan dari hukuman dosa bagi mereka yang mau mempercayai-Nya.
Dengan demikian penyaliban Isa Al-Masih menyatakan hikmat Allah dalam merencanakan suatu jalan keselamatan yang adil dan penuh dengan kasih.
Kami mempersilahkan Saudara membaca kesaksian mengenai orang-orang yang sudah mengalami keselamatan yang ditawarkan Allah.  Juga, jika saudara berminat silahkan belajar lebih mendalam mengenai keselamatan.
Read More

7 Sep 2011

Kristian

Membentuk Karakter yang berkemampuan

Bagaimana kita bisa mengetahui besar kecilnya iman seseorang?  Bagi kita orang beriman, Allah adalah Tuhan yang yang maha penyang. Begitu sayangnya pada kita manusia, seperti sayangnya seorang bapa kepada anaknya. Seorang bapa yang baik, bapa yang bijaksana, akan mendidik anak anaknya agar memiliki sikap (karakter yang baik). Pengajaran tentang karakter ini diberikan oleh seorang bapak (ayah) kepada anak anaknya sepanjang hidup sang anak. Pendidikan ini diberikan baik melalui pengajaran maupun melalui contoh (suri tauladan). Tuhan bukan saja baik tapi maha baik, bukan saja bijaksana tapi maha bijaksana.

Kita tidak menciptakan siapa diri kita sesungguhnya, tetapi kita bisa menemukan siapa diri kita. Dalam Matius 16: 15 – 28, bisa kita temukan dengan jelas bagaimana Yesus bersikap terhadap Petrus murid yang sangat dikasihiNya. Meskipun pada satu kesempatan Petrus ditegur oleh Yesus (Matius 16:23), meskipun Petrus sebelum ayam berkokok tiga kali telah menyangkal Yesus tiga kali, Petrus, secara terus menerus mendapatkan pendidikan karakter dari sang Guru (Yesus) sampai akhir saat Petrus mati di Roma.

Yesus adalah Bapa bagi setiap orang yang percaya padaNya. Sebab melalui Perjamuan Kudus setiap yang percaya menjadi sedarah dan sedaging dengan Dia. Apa makna darah dan daging yang diberikan oleh Yesus dalam perjamuan kudus? (Imamat 17:11). Dengan ikut dalam Perjamuan Kudus, setiap yang percaya menjadi sedarah dan sedaging dengan Yesus. Artinya, kita menjadi darah dagingnya. Yesus menjadi  bapak bagi yang percaya dan ikut pada Perjamuan Kudus. Sebagai bapak Dia akan mengasihi dan menjaga kita. Sama seperti kasih Ayah kepada anak anaknya (darah dagingnya), demikianlah Yesus menyangi kita (Yoh 15:9, Amsal 3:12).

Setiap orang yang percaya padaNya adalah anakNya. Kita adalah darah dan daging Yesus. Sebagai bapa kita, Yesus akan terus menerus menempa karakter kita agar kita layak menjadi anakNya.  Melalui cobaan dan kesulitan yang kita alami dalam kehidupan sehari hari, pada akhirnya, melalui kesulitan dan cobaan cobaan yang kita alami, kita menjadi kuat dan berkarakter. Dengan menjadi kuat dan berkarakter, kita akan menjadi saluran berkatNya bagi sesama kita yang memerlukan bantuan, bagi yang tidak berkemampuan, bagi yang belum mengetahui jalan keselamatan. Jalan Keselamatan untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Read More

17 Agu 2011

Kristian

Renungan di hari Kemerdekaan


Lidahmu adalah harimaumu. Demikian salah satu ungkapan milik bangsa kita. Lidah seringkali bisa membangkitkan semangat yang sudah mati, sebaliknya lidah juga bisa membunuh semangat yang sedang membara.

Di hari peringatan kemerdekaan negara kita Indonesia ini, kita juga perlu mengingat bagaimana lidah kita gunakan untuk kemajuan bangsa kita ini, memberkati atau mengutuk. Seringkali kondisi negara dan aparat pemerintahannya yang menurut kita sudah rusak dan sangat parah membuat kita mengucapkan banyak kutukan, cercaan bahkan kadang kadang karena terlalu emosi menjadi sebuah fitnah. Mulai dari tentang ketidakadilan, korupsi, kemacetan, tindakan tidak bermoral, kemiskinan, dan lainnya. Sadarkah kita bahwa keluhan dan kutukan kita itu tidak akan membuat Indonesia semakin baik tapi malah semakin buruk? Lidah kita mempunyai kuasa! Bagaimana kita mempertanggungjawabkan perkataan kita tentang negara dimana Tuhan telah menempatkan kita sebagai garam dan terang di dalamnya?

Karakter dan keadaan suatu negara dibangun oleh setiap warga negaranya, bukan hanya aparat pemerintahan, tapi semua orang yang tinggal di negara itu, ya, dan itu artinya termasuk kita yang ada di dalamnya, yaitu sebagai rakyat! Mungkin kita akan berkata, "Tapi apa artinya kalau hanya 1 orang yang berbuat benar sementara yang lain berbuat tidak benar?" Kita tidak akan pernah tahu sebelum kita melakukannya. Perubahan itu dimulai dari dalam, dari diri kita sendiri dahulu. Kalau kita tidak bisa merubah negara setidaknya kita merubah propinsi. Tidak bisa merubah propinsi kita coba merubah kabupaten. Tidak bisa merubah kabupaten bisa kita mulai dari kecamatan. Tidak bisa merubah kecamatan, kita mulai dari kelurahan. Tidak bisa merubah kelurahan setidaknya kita mulai dari RT/RW. Tidak bisa dari RT/RW kita mulai dari rumah kita, yaitu dari diri kita sendiri dan kemudian seisi rumah, kemudian se RT/RW, kemudian sekelurahan, dan seterusnya. Dari sanalah kita dapat menjadi terang dan garam yang mempengaruhi lingkungan kita, termasuk orang lain.

Tuhan tidak pernah menuntut kita harus menyelamatkan seluruh bangsa. Bahkan karya penebusanNya di salib juga tidak membuat semua penghuni bumi ini bertobat, karena dalam semua hal setiap orang mempunyai kehendak bebas. Tapi adalah tanggung jawab kita untuk melakukan apa yang benar, untuk menjadi teladan, walupun itu dimulai dari hal yang sepele seperti menjaga kebersihan. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika dimulai dari Anda, orang-orang dalam lingkungan Anda mulai berubah, lalu lingkungan yang lebih luas lagi berubah, semakin banyak orang berubah, akhirnya dengan sendirinya karakter negara itu juga akan berubah. Siapkah Anda memberkati Indonesia dengan perkataan dan perbuatan Anda?


Berhenti mengeluh dan mengutuk, berkatilah Indonesia dengan perkataan dan perbuatan kita.
Renungan kita
Read More

26 Sep 2009

Kristian

Renungan


Tuhan itu...seperti Coca Cola ada dimana saja....
seperti Rexona...selalu setia setiap saat....
seperti Sprite...selalu tau yang kumau...
seperti Honda...selalu lebih unggul
tapi....
mengapa manusia sering kali alpa berterimakasih...
seperti Panadol...sudah lupa tuh...!!!
                                                
Read More

25 Sep 2009

Kristian

Try this....

TERIMA KASIH TUHAN
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga.
Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, 'Ini adalah Seksi Penerimaan'.

Seksi Penerimaan
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima'.
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, 'Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman'.

Seksi Pengepakan dan Pengiriman
Disini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang yang memintanya. Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.
'Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih', kata Malaikat pelan. Dia tampak malu.

Seksi Pernyataan Terima Kasih
'Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?' tanyaku.
'Menyedihkan' , Malaikat-ku menghela napas.
'Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih'.
'Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?', tanyaku..
'Sederhana sekali', jawab Malaikat.
Cukup berkata, 'Terima kasih, Tuhan' '.
'Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri', tanyaku. Malaikat-ku menjawab,
'Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini'.
'Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia'.
'Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu'.
’Juga.... Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ... engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini'.
'Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia'.
'Jika engkau dapat menghadiri Rumah ibadah atau pertemuan religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan, atau kematian...maka engkau lebih diberkati daripada 3 milyar orang di dunia'.
'Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan ... maka engkau termasuk orang yang sangat jarang'.
'Jika engkau masih bisa mencintai ..., maka engkau termasuk orang yang besar, Karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun'.
’Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan dari semua (mereka) yang berada dalam keraguan dan keputusasaan'.
'Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih diberkati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali'.
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu.
Read More